blokBojonegoro.com – Direktur Bojonegoro Institute (BI), Abdul Wahid Syaiful Huda mengatakan, hampir di seluruh dunia ini belum ada satu pun negara yang menjamin bahwa Dana Migas itu aman. Sebab, mayoritas pasca berakhirnya proyek Migas keberadaan negara malah tidak semakin maju dan berkembang melainkan miskin.

“Kutukan Sumber Daya Alam (SDA) itu pasti ada. Bahkan, banyak dijadikan orang tak bertanggungjawab sebagai lumbung korupsi,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa AW ini menambahkan, tranparansi dana di sektor Migas memang sangat sulit diakses. Namun, menurutnya yang paling sulit adalah mencari data pengembalian biaya operasi atau yang dikenal cost recovery.

“Operator Migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) tidak mengakui adanya Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggungjawab sosial perusahaan akan tetapi Program Kemasyarakatan Penunjang Operasi (PKPO) yang berasal dari Cost Recovery,” imbuhnya.

Oleh karena itu, saat ini BI dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro sedang menyusun konsep untuk dana abadi Migas. Menurutnya, mekasnisme tersebut sangat penting dan lebih dititikberatkan sehingga dana abadi Migas tidak dapat diambil oleh siapa pun, baik bupati maupun parlemen berikutnya.

Seperti pada gagasan awal, lanjut AW, ada dua sumber dana besar yang sekiranya akan dimasukan 100 persen sebagai dana abadi Migas, yakni penyertaan modal atau Participating Interest (PI) sebesar Rp25 trilliun dan sebagian dari Dana Bagi Hasil (DBH) Migas.

“Jika nantinya bentuk yang dipilih adalah deposito, tentu akan ada penambahan bunga di setiap tahunnya. Semangatnya Dana Abadi ini juga akan digunakan untuk anak cucu dan generasi yang akan datang,” tandasnya. [oni/lis]

Sumber: http://blokbojonegoro.com/read/article/20150406/bi-agar-berkelanjutan-perlu-dana-abadi-migas.html