Dana Abadi MigasBojonegoro – Natural Resource Governance Institute (NRGI) dan Bojonegoro Institute mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Pembentukan Dana Abadi Migas Kabupaten Bojonegoro, di rumah dinas Bupati Bojonegoro, Drs. Suyoto, MSi. pada Hari Kamis, 9 April 2015. Kegiatan yang dimulai pada pukul 20.00 wib, ini merupakan diskusi lanjutan dari kegiatan-kegiatan sebelumnya.

Pada kesempatan tersebut, Tim NRGI memaparkan hasil riset tentang inisiatif Pemerintah Daerah (Pemda) Bojonegoro untuk membentuk Dana Abadi Migas. Hadir langsung Bupati Suyoto dan beberapa jajaran SKPD Kabupaten Bojonegoro. Adapun dari Tim NRGI, hadir Rosalita Arsyad, Henry Hotagaul, dan Aji Satria. Tim Bojonegoro Institute (BI), hadir Joko Purawanto dan Mustofirin (Dewan Pengarah BI), Aw. Syaiful Huda dan Lulus Harka Anggara.

Sedangkan pihak SKPD yang hadir, diantaranya Asisten II Bupati, Kepala Bagian Perekonomian, Kepala Dinas Pendapatan, Kepala Dinas ESDM, Kepala BPKKD, Kepala Bagian Ekonomi Bappeda, Kepala Sosial Budaya Bappeda dan Direktur PT. ADS.

Nampak hadir juga, dua anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro, Sigit Kushariyanto dan Suwito. Serta ditengah-tengah acara, ikut bergabung juga Tim World Bank yang sedang melakukan assesment terhadap kebijakan Pemda Bojonegoro selama tiga hari, 8-10 April 2015.

Aji Satria, Perwakilan Tim Riset NRGI dalam pemaparannya mengatakan bahwa Dana Abadi itu fokus untuk tiga hal; saving, stabilisasi dan sterilisasi. Saving artinya untuk menabung untuk masa mendatang, Stabilisasi untuk mencegah volatilitas, karena harga minyak bumi yang cenderung naik-turun. Adapun sterilisasai, agar APBD dijaga supaya tidak terlalu boros sehingga tidak menimbulkan inflasi.

Menurut lulusan Universitas Indonesia ini, Tim Riset NRGI telah melakukan riset yang pernah dilakukan NRGI dengan 58 Negara di dunia yang memiliki kebijakan Dana Abadi. Serta melakukan analisis data-data dan asumsi keuangan yang diperoleh dari dokumen APBD Kabupaten Bojonegoro maupun data realiasasinya.

“Kesuksesan Dana Abadi Migas atau Natural Resource Fund adalah yang fokus pada tabungan generasi yang akan datang,” jelas Aji Satria.

Menurut Aji, jika Bojonegoro menerapkan Dana Abadi Migas, maka merupakan Natural Resource Fund pertama di dunia ,yang menerapkan Dana Abadi di dalam konteks negara kesatuan. Karena saat ini sudah ada sekitar enam bentuk Resouce Fund Sub-Nasional (Daerah). Tetapi semuanya berada dalam konteks Negara Federal. Seperti Alberta, Kanada, Alaska, Texas dan lain sebagainya.

“Jika ada pertanyaan ini bentuk Dana Abadi harus bentuknya seperti apa? Dan tujuannya seperti apa? Hasil riset kami, sebenarnya tidak mesti hanya satu bentuk saja. Bisa saja semuanya dijalankan. Ada satu dana khusus tabungan, ada satu dana khusus pendidikan, ada satu dana untuk investasi,” Paparnya.

Menurut Aji, dari semuanya (bentuk-bentuk Dana Abadi) dirangkum dalam satu ketentuan, berupa Peraturan Daerah (Perda). Dalam ketentuan itu harus Jelas setiap peruntukannya. Agar tidak tercampur harus dipisahkan sejak awal. Biar dana yang untuk tabungan tidak tergerus untuk keperluan invesatasi dan sebaliknya.

Pada kesempatan ini pula, Bupati Bojonegoro, Suyoto dalam paparannya lebih cendrung memilih bentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), sebagai kelembagaan yang nantinya dipilih sebagai pengelola Dana Abadi. Menurutnya BLUD lebih simpel untuk diberlakukan dibanding bentuk BUMD. Selain itu juga transparansinya lebih terjaga, karena BPK, BPKP dan Inspektorat akan selalu mengaudit setiap tahunnya.

Kang Yoto, panggilan akrab Bupati Bojonegoro ini, mengilustrasikan dari Dana Abadi yang ditabung, nanti bunganya bisa untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) warga Bojonegoro. Seperti membiayai kuliah ke luar negeri. (Sh/Ls)