Wacana Pembentukan Dana Abadi Migas Kabupaten Bojonegoro-Bojonegoro Institute (BI) dan Natural Resource Governance Institute (NRGI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bersama beberapa SKPD  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Hari Selasa 10/3/2015 di Aula Bappeda Bojonegoro.  Kegiatan tersebut membahas tentang inisitif Pemkab yang ingin membuat kebijakan Dana Abadi Migas.

“Ide atau gagasan Dana Abadi Migas ini, sudah terlontar setahun yang lalu. Mengingat potensi pendapatan Migas yang cukup besar, yang diterima oleh Pemda. Kita ingin agar kekayaan migas ini tidak langsung dihabiskan, tapi juga sebagian disimpan untuk dirasakan oleh generasi mendatang,” Ujar Dewan Pengarah BI, Joko Purwanto saat membuka diskusi.

Menurut Joko, panggilan akrabnya. Kegiatan FGD pada siang hari ini adalah untuk menggali ide, tujuan, landasan flosofis dan yuridis, mekanisme dan bentuk serta sistem pengamanan Dana Abadi yang diinginkan.

Tampak hadir perwakilan SKPD. Antara lain, Helmy Elizabet (Bagian Perekonomian), Eriyan (Bappeda), Eko (Dispenda) M. Chosim (Bagian Hukum), dan M. Taufan (BPKKD). Sedangkan dari Bojonegoro Institute (BI) hadir Joko Purwanto (Dewan Pengarah) Iskandar (Penliti) dan Aw. Syaiful Huda (Direktur). Sedangkan dari Natural Resource Governance Institute (NRGI), hadir Jelson Garcia-Philipina (Direktur NRGI Kawasan Asia Pasifik), Rosyalita Arsyad, Emanuel Bria, dan Henry D. Hutagaol (Dosen dan Peneliti UI).

Menurut Rosalita Arsyad, Dana Abadi Migas atau disebut Petroleum Oil Fund pada level Nasional maupun Sub-Nasional, sudah diterapkan di beberapa Negara Eropa, Amerika Latin dan Afrika. “Jika ini bisa diterapkan di Kabupaten Bojonegoro, maka ini menjadi satu-satunya penerapan Oil Fund di Asia Pasifik untuk level sub-nasional,” jelas Rosalita.

Masih menurut Rosalita, tahun lalu NRGI telah mendampingin beberapa negara dengan melakukan riset-riset untuk dijadikan bahan penyusunan dan revisi kebijakan Dana Abadi Migas. “Tahun lalu kami telah melakukan penelitian pada 22 model Dana Abadi seluruh negara di dunia, dalam hal best practice dan tantangan,” imbuh wanita berkaca mata ini.

Sedang Henry, mempertanyakan tujuan atau visi dari gagasan Dana Abadi. “Apakah yang diinginkan Pemda, kaitannya dengan Dana Abadi nanti, itu untuk tujuan bisnis ataukah hanya mengamankan agar sebagian dana migas itu tidak dihabiskan dan digunakan untuk generasi mendatang?,” Tanya dosen dan peneliti UI ini.

Sementara, Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elizabet, menjelaskan tujuan munculnya gagasan membentuk Dana Abadi Migas.

“Awal mulanya begini, Bojonegoro kedepan ini akan mendapat pendapatan dari Migas, baik Partisipating Interest (PI) dan Dana Bagi Hasil (DBH) yang sangat besar. Keinginan kita semua, khususnya Pak Bupati. Dana yang besar tersebut tidak langsung dihabiskan. Tapi disimpan sebagian untuk generasi mendatang, paska migas sudah habis.

Sebenarnya bisa saja, Pemda menghabiskan dana tersebut untuk belanja APBD. Tapi bagaimana dengan generasi yang akan dating? Akankah kita mewarisi masa kejayaan, bahwa kita pernah punya SDA migas yang besar, kepada generasi tersebut?,” Jelas Helmy.

Selaras dengan Helmy, Kepala Bagian Hukum Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bojonegoro, M. Chosim, menambahkan agar dalam perumusan Dana Abadi ini dilakukan secara matang agar hasilnya tetap sesuai dengan aturan yang ada. “Harus ada payung hukum yang jelas,” harapnya.

Seperti yang diketahui, inisiasi raperda ini sudah sering disampaikan Bupati Bojonegoro, Suyoto. Bahkan, sesuai dengan rencana yang telah disampaikan orang nomor satu di Bojonegoro ini, eksekutif berusaha untuk membawa raperda ini untuk dirampungkan dan dibahas dalam Prolegda tahun ini. “Duit ini harus bisa dinikmati generasi saat ini dan yang akan datang,” tegas Kang Yoto, paggilan akrabnya pada kesempatan bertemu di rumah dinasnya, sehari sebelum kegiatan ini (sh/ls).