“..sepatutnya kontraktor mau memahami local wisdom dan memperbaiki gaya komunikasi dengan pekerja, utamanya pada masyarakat dan stakeholder lokal. Termasuk membantu menumbuhkan ekonomi masyarakat, guna mengurangi gap (kesenjangan) yang berpotensi menumbuhkan konflik antar kelas sosial.” 

Kenapa sampai terjadi kerusuhan, yang berujung perusakan, pembakaran dan penjarahan oleh ribuan pekerja Engineering, Procurement and Construction (EPC) 1 – Blok Cepu ? Dari informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber, diantaranya mengatakan bahwa kericuhan berawal adanya pengetatan aturan dari manajemen perusahaan, dalam hal ini ExxonMobil, sebagai kontraktor Blok Cepu. Misalnya pemberlakuan mekanisme satu pintu keluar untuk makan siang, pendeknya jam istirahat dan lain sebagainya. Salah satu sumber yang saya korek keterangannya, mengisyaratkan bahwa jauh hari sebelum kerusuhan terjadi, beberapa pekerja memang sudah lama ‘gremeng-gremeng’ akan melakukan demontrasi.

Oh ya, sekedar gambaran saja mengenai area proyek EPC1,  kondisi di dalam area pada saat siang, suhunya luar biasa panas. Terik matahari khas musim kemarau sangat terasa menyengat tubuh. Udara panas bercampur debu, ditambah sedikit sekali pepohonan serta gas flare yang terus menyala-menyala, membuat orang disana merasa bagaikan diopen –  semacam alat untuk membuat roti kering. Terus terang saja, ini pun saya hanya dapat cerita dari sumber lain yang saya mintai informasi.

Dengan kondisi cuaca sangat panas, lalu ribuan pekerja dengan perut sedang menahan lapar itu berjubel, berdesakan, ngantri di pintu keluar untuk cepat-cepat menikmati makan siang, lalu beristirahat sebentar. Padahal waktu yang disediakan untuk istirahat hanya satu jam. Ketika saya membayangkannya saja, saya pun ikut merasakan bagaimana emosi jika kondisinya begitu? Maka jika benar demikian, hemat saya betapa sembrononya pihak perusahaan/kontraktor. Kebijakan perusahan tersebut, tidak kalah ngawur-nya dengan tindakan perusakan dan pembakaran oleh sekelompok pekerja. Untunglah api dapat segera dipadamkan. Jika tidak, bisa dibayangkan seandainya itu menjalar ke tempat atau bagian yang itu berbahaya?

Peristiwa ini merupakan preseden buruk. Semestinya kejadian seperti ini sudah diperhitungkan matang-matang oleh pihak kontraktor. Pekerja bukan mesin. Jadi perlu diperlakukan secara manusiawi. Cara-cara pendekatan represif sepaptutnya sudah ditinggalkan. Apalagi dengan akan berakhirnya proyek EPC1, mustinya perusahaan lebih memakai cara pendekatan   dialogis yang humanis.

Perkembangan Isu Pasca Kerusuhan
Sayup-sayup, rasan-rasan dari obrolan-obrolan orang yang saya ikuti, muncul beberapa isu yang berkembang pasca kerusuhan. Ada diantaranya disinyalir dan dikait-kaitkan dengan munculnya kekacauan tersebut. Pertama, sebagaimana diketahui bahwa proyek EPC 1, yang dikerjakan oleh Sub-Kontraktor ExxonMobil, yakni PT. Tripatra-Samsung – sudah hampir selesai, sekitar 96 persen. Proyek yang semestinya selesai pertengahan 2014 lalu, kini dengan akan berakhirnya proyek, sudah barang tentu nanti bakal ada  sekitar 8000-an pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan. Tentu saja ini momok bagi para pekerja, yang gajinya jauh di atas melebihi rata-rata UMK ini. Apalagi jika mereka belum punya pandangan atau gambaran paska pemutusan kerja ini mau kerja apa dan dimana? Jika biasanya mereka pegang duit yang lumayan gedhe, lalu tiba-tiba tidak ada pemasukan, tentu bisa mengganggu psikologi.

Oleh sebab itulah, ada sebagian sahabat saya yang mengatakan bahwa aksi anarkis kali ini, ibarat bom waktu. Baru awal, dan bisa saja akan terjadi rentetan-rentetan aksi-aksi ‘anarkis’ berikutnya. Jika para pihak, pemangku kebijakan tidak punya perencanaan yang matang pasca EPC 1 selesai. Maka kemungkinan yang lebih buruk bisa saja terjadi.

Kedua, adalah isu kemungkinan adanya hubungan kejadian kekacauan dengan beberapa peristiwa sebelumnya, diantaranya adanya tenaga kerja lokal yang diputus oleh pihak kontraktor, namun justru memasukkan tenaga kerja diluar wilayah Bojonegoro. Berakhirnya masa kontrak ± 40 Orang tenaga Watchman (Pamtup) dengan G4S, pada tanggal 1 Agustus 2015, sementara permohonan perpanjangannya pada tanggal 22 Juli 2015, belum ada tanggapan. Adanya pengurangan tenaga security yg mencapai ratusan orang. Adanya invoice (tagihan project) yang terkatung-katung sampai 1 (satu) tahun yang belum terbayar Adanya upah pekerja yg dikurangi (2 hari/minggu) diduga dilakukan oleh Sub Kontraktor. Minimnya keterlibatan kontraktor lokal dalam pekerjaan maintenance yg dilakukan lelang langsung oleh EMCL. Belum terselesaikannya penyelesaian Tukar Guling TKD Gayam. Lambatnya ExxonMobil selaku kontraktor merespon isu menjadikan adanya pihak-pihak yang memanas-manasi, untuk mengambil keuntungan dengan adanya situasi yang kacau. Ini hanya kemungkinan, bisa iya bisa tidak.

Ketiga, potensi target peak production tidak tercapai pada tahun ini. Sebagaimana di awal catatan ini, bahwa semestinya pengerjakan proyek EPC1 selesai pertengahan 2014 lalu. Menurut sebuah sumber, karena tidak dapat mencapai target itu, Tripatra beralibi dengan menyalahkan Perda Konten Lokal sebagai ‘biangnya’, yakni dianggap sebagai faktor penghambat. Meski kemudian anggapan ini tak berdasar, dan seakan-akan mengada-ada. Tapi kenyataannya SKK Migas mau menuruti perpanjangan penyelesaian EPC1 yang diajukan oleh Tripatra-Samsung.

Selain itu juga, konon ada yang menginformasikan bahwa karena kegagalan Sub-Kontraktor EPC1 menyelesaikan target, Perusahaan ini pun mengajukan perpanjangan masa proyek, sekaligus juga mengajukan penambahan anggaran ke SKK Migas. Besarannya berapa? Nah, ini yang tidak transparan. Berapanya itu tidak banyak yang tahu.

Toh, pada kenyataanya SKK Migas akhirnya mau memperpanjang batas waktu pnyelesaian kontrak sekligus penambahan anggaran yang diajukan. Target rampungnya EPC1 diperpanjang dan selesai tahun ini, 2015. Sebab dengan melesetnya perampungan pembangunan EPC 1, tentunya dapat menghambat target produksi puncak tahun 2015 ini. Sejatinya ditargetkan tahun lalu, 2014. Menurut sumber saya ini, SKK Migas menekan kontraktor, agas segera menggeber (mengejar) target rampungnya EPC1. Tidak ingin menunjukkan muka kegagalan lagi, inilah yang kemudian membuat kontraktor melalui Sub-Kontraktor  menggenjot pelaksanaan proyek, diantaranya dengan memperketat pengerjaan proyek di lapangan.

Memang sektor migas nasional sedang mengalami kelesuan, merosotnya produksi dari tahun ketahun. Saat ini produksi minyak dalam negeri hanya mampu kisaran 825.000 barel perhari. Padahal kebutuhan konsumsi minyak dalam negeri sudah mencapai sekitar 1,5 juta barel perhari. Belum ketambahan lagi situasi harga minyak dunia yang anjlok di bawah 40-an US dollar. Tentu dampak pengaruhnya terhadap  kemampuan fiscal (APBN). Sehingga berdampak pula pada target-target dan perencanaan pembangunan yang telah dicanangkan-diprogramkan oleh pemerintah.

Namun apakah kejadian kekacauan ini akan menjadi alasan Kontraktor jika target penyelesaian proyek pembangunan EPC 1  gagal lagi  tercapai tahun ini? Entahlah..

Psikologi Massa; Amuk Pekerja EPC1 Blok Cepu
Massa menurut Gustave Le Bon, didefinisikan dengan sekumpulan orang atau manusia yang berada dalam waktu dan tempat yang sama yang mempunyai ketertarikan (point of interest)  yang sama, yang bersifat sementara (Lih,Gerungan1900).

Park dan Burgesa (1959), yang membedakan massa menjadi dua jenis. Yaitu massa aktif (disebut mobs) dan massa pasif (disebut audiens). Massa aktif didefinisikan sebagai kerumunan massa yang emosional, cenderung melakukan kekerasan, penyimpangan dan tindakan destruktif. Biasanya mereka ini melakukan pembangkangan terhadap tatanan secara langsung, yang disebabkan rasa ketidakpuasan, ketidakadilan, frustasi, adanya perasaan diciderai institusi yang telah mapan atau lebih tinggi. Menurut pandangan Park dan Burgess, bahwa dalam skala besar, massa aktif (mobs) dapat melakukan tindakan anarkis dengan jalan membuat  kerusuhan, demontrasi, serta pengerusakan fasilitas dan beberapa sarana yang jadi pelampiasan kemarahannya. Adapun massa yang pasif, digambarkan sebagai massa yang tidak berperan aktif, hanya jadi penonton dalam suatu kegiatan bersama. Berdasarkan pendapatnya Park dan Burgesa (1959), di proyek EPC1-Blok Cepu, maka sekelompok pekerja (massa) yang ikut berperan dalam kerusuhan masuk dalam katagori massa aktif.

Pada waktu terjadinya kerusuhan pekerja Blok Cepu, sebenarnya bisa saja itu awalnya hanya perilaku reaktif sebagian pekerja pada saat itu juga. Lalu menjalar menjadi tindakan massa yang cukup banyak? Untuk menjawabnya, berikut pendapat Neil Smelser yang mengatakan bahwa munculnya perilaku kolektif disebabkan oleh enam kondisi; Pertama, struktur sosial yang kondusif memunculkan perilaku kolektif. Kedua, adanya ketegangan yang secara struktural terjadi di dalam masyarakat. Ketiga, adanya keyakinan bersama untuk mendorong masyarakat melakukan tindakan secara kolektif. Keempat, adanya peristiwa pemicu munculnya perilaku kolektif. Kelima, adanya mobilisasi massa, oleh pihak lain di luar massa atau yang memimpin massa. Keenam, adanya kegagalan kontrol sosial yang pada akhirnya membuat massa melakukan perilaku melawan hukum atau norma yang sudah baku.

Dengan demikian, munculnya kesadaran kolektif (massa) dilihat dari kronologi dan ceritanya,  alasan yang paling kuat dengan disertai beberapa pengakuan pekerja adalah disebabkan kompleksnya permasalahan. Diantaranya yang pemberlakuan aturan pekerja yang ketat, pihak perusahaan Sub-Kontraktor yang dianggap arogan dan sewenang-wenang. Ditambah lagi beberapa isu yang berkembang, yang mengisyaratkan adanya pemantik dari luar (massa). Seperti yang dijelaskan di awal.

Bisa saja, ini bakal menyulut perlawanan massa yang tidak lagi hanya sekedar reaktif sesaat – misalnya protes karena aturan pintu keluar atau jam makan. Tetapi sudah digerakkan oleh kesadaran kolektif dan terorganisir untuk melakukan gerakan berdasarkan solidaritas, ideology dan kepentingan (politik)  sesama. Kalau meminjam istilahnya Karl Marx, sebagai pertentangan dan perjuangan kaum buruh.

Ada teman saya berujar, hakekatnya ExxonMobil belum lama bekerja di Indonesia. Yang lama itu Mobil Oil, sehingga ExxonMobil tidak banyak tahu karakteriktik sosio-budaya masyarakat lokal. Main ketat-ketatan, tidak kompromis.  Ada benarnya ! Maka sudah sepatutnya kontraktor mau memahami local wisdom dan memperbaiki gaya komunikasi dengan pekerja, utamanya pada masyarakat dan stakeholder lokal. Termasuk membantu menumbuhkan ekonomi masyarakat, guna mengurangi gap (kesenjangan) yang berpotensi menumbuhkan konflik antar kelas sosial. Tentunya yang bukan dalam bentuk charity karena hanya akan semakin memupuk ketergantungan.

*Ditulis oleh Aw. Syaiful Huda, Pegiat Bojonegoro Institute (Sudah pernah dimuat di Radar Bojonegoro, 9/8/15)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *